KEKAYAAN INTELEKTUAL UNTUK NEGERI

Akhir-akhir ini banyak produk kreatif Indonesia yang sebagian besar warisan budaya bangsa banyak di klaim oleh negara tetangga, padahal bila negara lebih memberikan perhatian atau kemudahan dalam pemberian Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) pada produk tersebut

TEKNIK AKUNTANSI KEUANGAN SEKTOR PUBLIK

teori akuntansi memiliki kaitan yang erat dengan akuntansi keuangan, terutama pelaporan keuangan kepada pihak eksternal. Suatu teori perlu didukung oleh berbgai riset yang didalamnya terdapat hipotesa-hipotesa yang diuji kebenarannya.

KARAKTERISTIK DAN LINGKUNGAN SEKTOR PUBLIK

stilah “sektor publik” sendiri memiliki pengertian yang bermacam-macam. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari luasnya wilayah publik,sehingga setiap disiplin ilmu (ekonomi, politik, hukum, dan sosial) memilikicara pandang dan definisi yang berbeda-beda.

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI : PERSPEKTIF AKUNTAN

Jika memperhatikan arus informasi internal dan eksternal. Dapat di ketahui bahwa ada 3 pelaku interaksi antara perusahaan dengan para pengguna dalam lingkunagn eksternal yaitu pemegang kepentingan dengan pemasok dan pelanggan.

PENGANTAR PROSES TRANSAKSI DAN PENGENDALIAN INTERNAL

Terdapat tiga siklus transaksi yang memproses sebagian besar aktivitas ekonomi perusahaan, yaitu pengeluaran, siklus konversi, dan siklus pendapatan.

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2014

KEBIJAKAN DEVIDEN

Defenisi Kebikan Deviden
Menurut Aharony dan Swary (1980) dalam Nurhidayati (2006) mengemukakan bahwa informasi yang diberikan pada saat pengumuman dividen lebih berarti daripada pengumuman earning. Bagi para investor, dividen merupakan hasil yang diperoleh dari saham yang dimiliki, selain capital gain yang didapat apabila harga jual saham lebih tinggi dibanding harga belinya. Dividen tersebut didapat dari perusahaan sebagai distribusi yang dihasilkan dari operasi perusahaan.

Kebijakan dividen menurut Martono dan D. Agus Harjito (2000:253) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Kebijakn dividen (dividend policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang.

Kebijakan dividen menurut Gitman (2000) dalam Lani Siaputra (2005:72) adalah rencana tindakan yang harus diikuti dalam membuat keputusan dividen
Beberapa pertimbangan manajer dalam pembayaran dividen antara lain:
-Kebutuhan dana bagi perusahaan
-Semakin besar kebutuhan dana perusahaan berarti semakin kecil kemampuan untuk membayar dividen.
-Penghasilan perusahaan akan digunakan terlebih dahulu untuk memenuhi dananya baru sisanya untuk pembayaran dividen.

Likuiditas perusahaan
Likuiditas perusahaan merupakan salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan dividen. Karena dividen merupakan arus kas keluar, maka semakin besar jumlah kas yang tersedia dan likuiditas perusahaan, semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Apabila manajemen ingin memelihara likuiditas dalam mengantisipasi adanya ketidakpastian dan agar mempunyai fleksibilitas keuangan, kemungkinan perusahaan tidak akan membayar dividen dalam jumlah yang besar.
Kemampuan untuk meminjam
Posisi likuiditas bukanlah satu-satunya cara untuk menunjukkan fleksibilitas dan perlindungan terhadap ketidakpastian. Apabila perusahaan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mendapatkan pinjaman, hal ini merupakan fleksibilitas keuangan yang tinggi sehingga kemampuan untuk membayar dividen juga tinggi. Jika perusahaan memerlukan pendanaan melalui hutang, manajemen tidak perlu mengkhawatirkan pengaruh dividen kas terhadap likuiditas perusahaan.
Pembatasan-pembatasan dalam perjanjian hutang
Ketentuan perlindungan dalam suatu perjanjian hutang sering mencantumkan pembatasan terhadap pembayaran dividen. Pembatasan ini digunakan oleh para kreditur untuk menjaga kemampuan perusahaan tersebut membayar hutangnya. Biasanya, pembatasan ini dinyatakan dalam persentase maksimum dari laba kumulatif. Apabila pembatasan ini dilakukan, maka manajemn perusahaan dapat menyambut baik pembatasan dividen yang dikenakan para kreditur, karena dengan demikian manajemen tidak harus mempertanggungjawabkan penahanan laba kepada para pemegang saham. Manajemen hanya perlu mentaati pembatasan tersebut.
Pengendalian perusahaan
Apabila suatu perusahaan membayar dividen yang sangat besar, maka perusahaan mungkin menaikkan modal di waktu yang akan datang melalui penjualan sahamnya untuk membiayai kesempatan investasi yang menguntungkan.
Tiga pandangan Dasar  mengenai dividen dan nilai saham:
Kebijakan Dividen adalah Tidak Relevan
Posisi yang menyatakan bahwa dividen tidak penting berakar pada :
Keputusan investasi dan pinjaman telah dibuat, dan keputusan ini tidak akan berubah dengan jumlah pembayaran dividen.
Pasar modal “sempurna” diasumsikan ada, yaitu bahwa :
Investor dapat membeli dan menjual saham tanpa terjadinya biaya transaksi, seperti komisi pialang.
Perusahaan dapat menerbitkan saham tanpa biaya apapun.
Tidak ada pajak perusahaan.
Informasi lengkap mengenai perusahaan tersedia.
Tidak ada konflik kepentingan antara manajemen dengan Pemegang saham.
Biaya kesulitan keuangan dan kebangkrutan tidak ada.

Dengan dua asumsi diatas maka tidak ada hubungan antara kebijakan dividen dengan nilai saham. Secara agregat, investor hanya mementingkan pengembalian total dari keputusan investasi, mereka tidak peduli apakah pengembalian ini datang dari perolehan modal atau pendapatan dividen. Jadi apapun kebijakan ”trade-offs” yang dipilih, tidak akan mempengaruhi keputusan investor.

Pembayaran dividen oleh perusahaan dapat mempengaruhi harga saham, hanya jika pemegang saham tidak lagi memiliki jalan lain untuk menerima pendapatan dari investasi kecuali dari dividen. Tetapi dengan mengasumsikan pasar modal relatif efesien, pemegang saham yang membutuhkan pendapatan lancer selalu dapat menjual saham.

Dividen yang Tinggi, meningkatkan Nilai Saham
Kepercayaan bahwa kebijakan dividen meningkatkan nilai saham adalah diasumsikan bahwa investor mengharapkan tingkat pengembalian yang diharapkan apakah itu melalui perolehan modal ataukah melalui dividen. Tetapi dividen lebih bisa diramalkan daripada perolehan modal. Manajemen dapat mengontrol dividen tetapi tidak dapat mendikte harga saham.
Oleh karena tingkat kepastian dividen lebih tinggi daripada perolehan modal, maka diyakini bahwa dividen yang tinggi dapat meningkatkan nilai saham.
Dividen yang rendah, meningkatkan Nilai Saham
Pandangan yang ketiga menitikberatkan pada perlakuan pajak atas pendapatan dividen dan perolehan modal. Dalam hal pajak, investor ingin memaksimumkan pengembalian setelah pajak, bukannya pengembalian sebelum pajak. Investor mencoba menunda pajak saat dimungkinkan. Ini menyebabkan kebijakan membayar dividen rendah akan mengakibatkan harga saham yang lebih tinggi. Artinya dividen tinggi merugikan investor, sementara dividen rendah dan retensi tinggi membantu investor. Inilah logika yang mendasari kebijakan dividen rendah.
Dividen Saham dan Pemecahan Saham
Dividen Saham ( Stock Dividen )
Merupakan pembayaran kepada pemegang saham biasa berupa tambahan jumlah lembar saham. Hal ini dinyatakan dengan merubah catatan modal sendiri para pemegang saham pada neraca perusahaan. Dengan adanya dividen saham ini kepemilikan para pemegang saham di dalam perrusahaan proporsinya tetap sama atau tidak berubah.
Contoh
Tahun 2000 PT X mempunyai struktur modal sendiri sebagai berikut :


Struktur Modal Sendiri  
Saham biasa : (Nominal Rp.1.000x500.000 lbr) Rp. 500.000.000  
Tambahan Modal Rp. 80.000.000  
Laba ditahan Rp. 260.000.000  
Total Modal Sendiri Rp. 840.000.000

PT X membayar dividen saham sebesar 10% dari saham beredar yaitu berjumlah 10% x
500.000 lembar = 50.000 lembar saham tambahan. Nilai pasar saham tersebut adalah Rp. 2.500 setiap lembarnya. Untuk setiap 10 lembar saham yang dimiliki, pemegang saham menerima satu lembar tambahan.
Struktur modal perusahaan setelah distribusi dividen saham adalah :



Struktur Modal Sendiri  
Saham biasa : (Nominal Rp.1.000x550.000 lbr) Rp. 550.000.000  
Tambahan Modal Rp. 155.000.000  
Laba ditahan Rp. 135.000.000  
Total Modal Sendiri Rp. 840.000.000

Dengan pembayaran dividen saham, maka nilai saham sebesar Rp. 2.500 x 50.000 lembar = Rp. 125.000.000 dipindah dari laba ditahan keperkiraan saham biasa dan tambahan modal. Maka nilai nominal saham tetap sama sebesar Rp. 1.000 perlembar. Kenaikan jumlah saham biasa dicerminkan kenaikan sebesar Rp. 1.000 x 50.000 lembar diperlihatkan dalam perkiraan saham biasa. Sisa sebesar nilai saham sebesar Rp. 125.000.000 – 50.000.000 = Rp. 75.000.000 masuk keperkiraan tambahan modal, sedangkan total modal sendiri perusahaan tersebut tetap sama yaitu sebesar RP. 840.000.000. Maka EPS ( Earning Pershare ) mengalami perubahan, misal mulanya EAT adalah Rp. 130.000.000 maka EPS adalah 130 juta : 500.000 lembar = Rp.260. Jadi EPS setelah pembagian dividen saham sebanyak 50.000 lembar menjadi Rp.130.000.000 : 550.000 lembar = Rp.236,36

Pemecahan saham ( stock split )
Adalah peningkatan jumlah saham bererdar dengan mengurangi nilai nominal (nilai pari ) saham tersebut. Misal dari saham diatas nilai nominal Rp.1.000,- perlembar dipecah menjadi 2 lembar dengan nilai nominal masing-masing sebesar RP. 500 perlembar, maka pemecahan saham tersebut terlihat sbb :

Sebelum pemecahan Setelah pemecahan  
Saham biasa : (Nominal Rp. 500.000.000 Saham biasa : (Nominal Rp. 500.000.000  
Rp.1.000x500.000 lbr) Rp.500 x 1.000.000 lbr)  
Tambahan Modal Rp. 80.000.000 Tambahan Modal Rp. 80.000.000  
Laba ditahan Rp. 260.000.000 Laba ditahan Rp. 260.000.000  
Total Modal Sendiri Rp. 840.000.000 Total Modal Sendiri Rp. 840.000.000





Dari kasus diatas dividen kas yang diterima pemegang saham sebelum pemecahan adalah Rp. 200 perlembar saham, jadi yang memiliki saham 100 lembar akan menerima dividen kas adalah Rp. 20.000, tapi setelah pemecahan adalah 200 lembar x 200 = Rp. 40.000.
Pembelian kembali saham ( Stock Repurchase )
Metode pembelian kembali saham :
Self Tender Offer adalah tawaran perusahaan untuk membeli kembali sahamnya pada harta tertentu ( diatas harga pasar ). Pemegang saham dapat memilih, memnjual atau tetap memilikinya Biasanya periode penawaran antara 2 – 3 minggu. Biaya transaksinya tinggi dari biaya transaksi biaya di pasar terbuka.
Open Market Purchase. Perusahaan dapat melakukan pembelian saham kembali di pasar terbuka ( melalui pialang ). Waktu membeli lebih lama untuk membeli dalam jumlah besar.

Contoh PT.AVI mempertimbangkan untuk membagikan labanya sebesar Rp.
140.000.000 dalam bentuk dividen kas atau melakukan pembelian kembvali sahamnnya . informasi keuangan sebagai berikut :


EAT Rp. 180.000.000  
Jumlah saham beredar 500.000 lembar  
EPS Rp.360  
Harga pasar saham sekarang Rp.6000  
Dividen per lembar yang diharapkan Rp.280

Karena investor mengharapkan dividen kas per lembar saham sebesar Rp.280 yaitu
Rp.140.000.000 : 500.000 lembar, maka nilai saham menjadi Rp 6000 + Rp.280 =
Rp.6.280.
Misalkan perusahaan membeli kembali sebagian sahamnnya dan melakukan penawaran
pada harga Rp. 6.280 perlembar , sehingga mampu membeli sebanyak Rp.140.000.000 : Rp.6280 = 22.293 lembar. Maka EPS setelah pembelian kembali adalah Rp. 180.000.000 : ( 500.000 – 22.293 lembar ) = Rp. 377 . Apabila PER setelah dividen Rp.6.000 : 360 = 17 kali. Apabila ratio itu tetap setelah pembelian saham kembali, maka harga perlembar saham adalah 17 x Rp.377 = 6.409

PEMBIAYAAN INTERNAL

Pembiayaan merupakan salah satu hal yang penting bagi keberhasilan usaha perusahaan. Fungsi ini penting karena dalam kegiatan operasinya perusahaan sangat membutuhkan dana. Baik perusahaan besar maupunkecil dana sangat dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan usahanya. Dana yang dibutuhkan bisa diperoleh baik melalui pembiayaan dari dalam perusahaan (internal financing) maupun pembiayaan dari luar perusahaan (eksternal financing).
Sumber pembiayaan modal internal adalah berupa pemanfaatana laba yang ditahan (retained earning), yaitu laba yang tidak dibagikan sebagai dividen. Sumber pembiayaan eksternal diperoleh perusahaan dengan melakukan pinjaman kepada pihak klien atau menjual sahamnya kepada masyarakat (go public) di pasar modal.

KESIMPULAN

Pilihan Perusahaan adalah untuk membayar atau tidak membayar dividen kas kepada pemegang saham dan pilihan lebih lanjut untuk menambah dividen,mengurangi dividen ataupun menjaganya pada jumlah yang sama merupakan salah satu bidang yang menantang dan membingungkan dari kebijakan keuangan perusahaan.
Kebijakan deviden adalah kebijakan untuk menentukan berapa laba yang harus dibayarkan(deviden) kepada pemegang saham dan berapa banyak yang harus ditanan kembali(laba ditahan)
Deviden adalah pendapatan bagi pemegang saham yang dibyarkan setiap akhir periode sesuai dengan presentasinya.

Sumber pembiayaan modal internal adalah berupa pemanfaatana laba yang ditahan (retained earning), yaitu laba yang tidak dibagikan sebagai dividen. Sumber pembiayaan eksternal diperoleh perusahaan dengan melakukan pinjaman kepada pihak klien atau menjual sahamnya kepada masyarakat (go public) di pasar modal.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.upi-yptk.ac.id/download//Modul%20MKLanj.pdf
http://sicilia-siciliaindri.blogspot.com/2012/03/kebijakan-deviden-manajemen-keuangan.html
http://diploma4stan.wordpress.com/2012/02/16/manajemen-keuangan/

MEASUREMENT OF VARIABLES: OPERATIONAL DEFINITION

BAGAIMANA MENGUKUR VARIABEL
Dalam menguji hipotesis bahwa keanekaragaman di tempat kerja memengaruhi efektivitas organisasi, peneliti harus mengukur keragaman tenaga kerja dan efektivitas organisasi. Pengukuran adalah penempatan nomor atau symbol lain dengan karakteristik (atau atribut) dari sifat objek dengan aturan yang spesifik.Atribut objek dapat diukur secara fisik melaui instrumen kalibrasi tanpa menimbulkan masalah pengukuran. Pengukuran atribut yang lebih abstrak dan subyektif rupanya lebih sulit.
OPERASIONALISASI DARI VARIABEL
Salah satu teknik yakni mengurangi gagasan yang abstrak atau konsep untuk perilaku atau karakteristik yang dapat diobservasi. Pereduksian konsep abstrak sehingga dapat diukur secara nyata atau berwujud disebut operasionalisasi konsep.
Operasionalisasi dilakukan dengan tinjauan pada dimensi tingkahlaku atau properti yang dimiliki oleh konsep tersebut. Konsep tersebut diterjemahkan ke dalam elemen-elemen yang dapat diukur sehingga dapat dikembangkan sebuah indeks pengukuran dari konsep tersebut.
Tahapan-tahapan operasionalisasi yakni:
  • Menemukan definisi dari gagasan yang ingin diukur.
  • Memikirkan isi dari pengukuran yaitu instrument (satu atau beberapa item atau pertanyaan) sebagai pengukuran aktual dari konsep yang ingin diukur untuk pengembangan. Kemudian, format respon dibutuhkan.
  • Menilai keabsahan dan keandalan dari skala pengukuran.

Oprasionalisasi : Dimensi dan elemen
Sebuah contoh konsep yang memiliki lebih dari satu dimensi adalah agresi. Agresi memiliki dua dimensi;agresi verbal dan agresi fisik. Karena itu agresi termasuk perilaku seperti berteriak dan mengumpat ke orang (agresi verbal), juga melempar benda, memukul tembok, dan melukai orang lain secara fisik (agresi fisik).  Pengukuran yang valid tentang agresi harus memasukkan item yang mengukur agresi verbal dan agresi fisik. Pengukuran yang hanya memasukkan item agresi verbal atau hanya memasukkan item agresi fisik tidak akan valid jika tujuan peneliti adalah mengukur agresi. Pengukuran yang valid memasukkan pertanyaan kuantitatif yang dapat diukur atau item yang dapat merepresentasikan asal atau keseluruhan konsep .Jika konsep memiliki lebih dari satu asal atau dimensi, maka peneliti harus yakin bahwa pertanyaan atau item yang merepresentasikan dimensi ini dimasukkan dalam pengukuran.
Operasionalisasi ( Multidimensional) Konsep Motivasi Berpencapaian
Misalkan peneliti tertarik untuk membangun hubungan antara gender dengan motivasi berpencapaian. Peneliti harus mengukur baik gender maupun motivasi berpencapaian. Mengukur gender tidak akan sulit, namun mengukur motivasi berpencapaian akan cukup sulit, karena konsep ini abstrak dan subjektif secara alamiah. Untuk Alasan ini peneliti harus menduga motivasi berpencapaian dengan mengukur dimensi perilaku, aspek atau karakteristik yang diharapkan akan ditemukan pada orang dengan motivasi berpencapaian yang tinggi. Tanpa mengukur dimensi ini peneliti tidak akan sampai pada kesimpulan hubungan gender dan motivasi berpencapaian.
Setelah menentukan konsep, langkah selanjutnya dari pengukuran konsep yang abstrak seperti motivasi berpencapaian adalah dengan menelaah literatur untuk mencari pengukuran – pengukuran yang ada untuk objek tersebut.
Manfaat Penggunaan skala pengukuran yang sudah ada sebagai berikut:
1.       Menghemat banyak waktu dan energi.
2.       Memungkinkan peneliti untuk memeriksa penemuan peneliti lain dan membangun penelitian diatas penelitian lain.
Karena itu, saat peneliti ingin mengukur sesuatu dan menggunakan pengukuran tersebut peneliti harus melihat apakah hal tersebut sudah pernah diukur atau belum. Peneliti harus mendokumentasikan penggunaan skala pengukuran yang sudah ada dengan tepat.
Dimensi dan Elemen Motivasi Pencapaian
Apa saja dimensi perilaku, aspek, atau karakteristik yang peneliti perkirakan ada pada orang yang memiliki motivasi pencapaian yang tinggi? Mereka mungkin mempunyai karakteristik dibawah ini, yang disebut dimensi:
a.       Mereka dikendalikan oleh pekerjaan. Mereka akan bekerja sepanjang hari untuk mendapatkan kepuasan atas pencapaian dan kesempurnaan.
b.       Banyak dari mereka umumnya tidak memiliki hasrat untuk bersantai dan memberikan perhatiannya pada aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
c.        Karena mereka selalu ingin mencapai dan menyelesaikan, mereka akan memilih untuk bekerja sendiri dibanding bekerja dengan orang lain.
d.       Dengan pikiran dan hati yang tertuju pada pencapaian dan pencapaian, mereka akan cenderung terikat pada pekerjaan yang lebih menantang.
e.       Mereka akan tertarik untuk mengetahui bagaimana perkembangan mereka dalam pekrjaan.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa orang dengan motivasi pencapaian yang tinggi akan menggerakkan diri sendiri untuk tekun bekerja, susah merasa rileks, lebih suka bekerja sendiri, memilih pekerjaan yang menantang, dan mengharapkan umpan balik.

·         Elemen Dimensi 1
Kita dapat menjelaskan perilaku seseorang yang digerakkan oleh pekerjaan. Orang semacam itu akan (1) bekerja sepanjang waktu, (2) enggan untuk tidak masuk kerja, (3) tekun, bahkan dalam menghadapi sejumlah kemunduran. Tipe perilaku tersebut bisa diukur. Misalnya, kita dapat menghitung jumlah jam yang karyawan gunakan untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan selama jam kerja, di luar jam kerja di tempat kerja, dan di rumah di mana sangat mungkin mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Dengan demikian, jumlah jam yang diberikan untuk pekerjaan akan menjadi sebuah indeks yang mengungkapkan seberapa pekerjaan “menggerakkan” mereka.
·         Elemen Dimensi 2
Tingkat ketidakinginan untuk bersantai dapat diukur dengan mengajukan pertanyaan seperti :
1.         Berapa sering anda memikirkan pekerjaan ketika tidak sedang berada di tempat kerja ?
2.         Apa hobi anda ?
3.         Bagaimana anda menghabiskan waktu ketika tidak di tempat kerja ?
Mereka yang dapat bersantai akan menunjukkan bahwa biasanya tidak memikirkan pekerjaan atau tempat kerja ketika di rumah, menghabiskan waktu melakukan hobi, menikmati aktivitas saat senggang, serta menggunakan waktu libur bersama keluarganya, berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau budaya, dan lainnya. Jadi, kita bisa menempatkan karyawan pada sebuah kesatuan yang membentang dari mereka yang sangat dapat bersantai ke yang sedikit bersantai. Dimensi ini kemudian juga bisa diukur.

·         Elemen Dimensi 3
Individu dengan motivasi pencapaian tinggi tidak sabar terhadap orang yang tidak efektif dan enggan bekerja dengan orang lain. Meskipun orang bermotivasi pencapaian dalam organisasi mungkin sangat tinggi dalam kecenderungan tersebut, ada kemungkinan orang di organisasi  yang tidak memiliki motivasi pencapaian. Orang pada kategori terakhir, bukannya tidak efektif, entah dalam diri mereka sendiri atau menurut orang lain, dan mungkin cukup ingin untuk bekerja dengan hampir semua orang. Jadi, ketidaksabaran terhadap ketidakefektifan juga bisa diukur dengan mengamati perilaku.
·         Elemen Dimensi 4
Ukuran seberapa senang orang mencari pekerjaan yang menantang bisa diperoleh dengan bertanya mengenai jenis pekerjaan yang mereka pilih. Sejumlah deskripsi pekerjaan yang berbeda dapat diberikan-beberapa mewakili pekerjaan yang bersifat rutin dan lainnya dan mengandung gradasi tantangan tertentu di dalamnya. Preferensi karyawan terhadap jenis pekerjaan yang berbeda kemudian dapat ditempatkan pada suatu kesatuan yang membentang dari yang memilih pekerjaan cukup rutin ke yang memilih pekerjaan dengan tantangan yang kian sulit.
·         Elemen Dimensi 5
Dengan menelusuri seberapa sering individu mencari umpan balik dari orang lain selama periode waktu tertentu-katakanlah, beberapa bulan-karyawan bisa kembali ditempatkan dalam suatu kesatuan yang membentang dari mereka yang sangat sering mencari umpan balik hingga yang tidak pernah mengharapkan umpan balik dari siapapun pada waktu apapun.
Kegunaannya adalah bahwa orang lain bisa menggunakan ukuran serupa, sehingga memungkinkan pengulangan atau peniruan (replicability). Tetapi, perlu disadari bahwa semua definisi operasional sangat mungkin (1) meniadakan beberapa dimensi dan elemen penting yang terjadi karena kelalaian mengenali atau mengkonsepkannya, dan (2) menyertakan beberapa segi yang tidak relevan, yang secara keliru dianggap relevan.
Mendefinisikan konsep secara oprasional adalah cara terbaik untuk mengukurnya. Tetapi benar-benar mengobservasi dan memperhitungkan seluruh perilaku individu dalam cara tertentu, bahkan jika hal tersebut cukup praktis, akan terlalu sulit dilakukan dan memakan waktu. Jadi, daripada benar-benar mengobservasi perilaku individu,peneliti  bisa meminta mereka menceritakan pola perilaku mereka sendiri dengan  mengajukan pertanyaan tepat yang bisa direspon pada skala tertentu yang telah disusun.
Apa Yang Tidak Termasuk Operasionalisasi
Definisi operasional tidak menjelaskan korelasi konsep. Misalnya, kesuksesan kinerja tidak dapat menjadi sebuah dimensi dari motivasi pencapaian, meskipun demikian, seseorang yang bermotivasi sangat munkin memenuhi hal tersebut dalam ukuran yang tinggi. Dengan demikian, motivasi pencapaian dan kinerja dan/atau kesuksesan mungkin berkorelasi tinggi, tetapi kita tidak mengukur level motivasi seseorang melalui kesuksesan dan kinerja. Secara lebih rinci, seseorang dengan motivasi pencapaian tinggi bisa saja gagal karena suatu alasan, yang mungkin diluar kendalinya untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sukses. Dengan demikian, jika peneliti menilai motivasi pencapaian orang tersebut dengan kinerja sebagai ukuran, peneliti akan mengukur konsep yang salah.
Mendefinisikan sebuah konsep secara oprasional tidak meliputi penguraian alasan, latar belakang,konsekuensi, atau korelasi konsep. Sampai tingkat tertentu menjelaskan karakteristik yang dapat diobservasi agar konsep dapat diukur. Penting untuk mengingat hal ini, kerena jika peneliti mengoprasionalkan konsep secara tidak tepat atau mengacukannya dengan konsep lain, peneliti tidak akan memperoleh ukuran yang valid.
Tinjauan Operasionalisasi
Operasionalisasi penting untuk mengukur konsep abstrak seperti hal-hal yang biasanya berkaitan dalam wilayah subjektif seperti perajektif perasaan dan sikap. Variabel yang lebih objektif seperti usia atau tingkat edukasi mudah untuk diukur melalui pertanyaan langsung,sederhana,dan tidak perlu didefinisikan secara oprasional. Untungnya ukuran untuk banyak konsep yang relevan dengan konteks organisasi telah disusun oleh peneliti.nal
DIMENSI INTERNASIONAL DARI OPERASIONALISASI

Dalam melakukan penelitian transnasional, penting untuk mengingat bahwa variabel tertentu memiliki arti dan konotasi yang berbeda dalam budaya yang berbeda. Misalnya, istilah “cinta” yang memunculkan beberapa penafsiran pada budaya yang berbeda dan memiliki paling sedikit 20 interpretasi yang berbeda di bebepaa negara. Demikian pula, konsep “pengetahuan” sama dengan “jnana” di beberapa budaya Timur dan ditafsirkan sebagai “realisasi Maha Kuasa” Oleh karena itu, bijaksana bagi para peneliti yang berasal dari suatu negara yang berbicara dengan bahasa yang berbeda untuk merekrut bantuan ahli - ahli lokal untuk mengoperasionalkan konsep tertentu saat melakukan penelitian silang budaya.

DATABASE MANAGEMENT SYSTEM

Gambaran Umum File Datar Versus Pendekatan Basis Data
Setiap huruf menunjukkan satu atribut data atau field, satu record, atau seluruh file. Perhatikan juga bahwa elemen data B terdapat dalam semua file pengguna. Ini disebut redundansi data, yang menjadi penyebab utama dari masalah-masalah mamajemen data yang penting dalam tiga bidang: penyimpanan data, pembaruan data, dan kekinian informasi. Setiap bidang ini, dan masalah yang keempat, ketergantungan data tugas, yang tidak langsung berkaitan dengan redundansi data, akan dijelaskan dalam bab ini.
Flat file merupakan model dengan perspektif tunggal yang mencirikan sistem warisan (legacy system) dimana file-file data distrukturisasi, diformat dan diatur agar sesuai kebutuhan spesifik pemakai. Masalah operasional yang melekat dalam pendekatan flat file yang akhirnya melahirkan konsep database.
Penyimpanan Data
Bab 1 menunjukkan bahwa sistem informasi yang efisien hanya satu kali menagkap dan menyimpan data dan membuatnya tersedia ke semua pengguna yang membutuhkannya. Dalam lingkungan file datar, hal ini tidak mungkin terjadi.
Perbaruan Data
Organisasi memiliki banyak sekali data yang disimpan dalam file induk dan file referensi yang memerlukan pembaruan berkala agar mencerminkan perubahan operasional dan ekonomi.
Kekinian Informasi
Berbeda dengan masalah melakukan update beberapa adalah masalah gagal untuk memperbarui file dari semua pengguna terpengaruh oleh perubahan. Jika pesan update yang tidak benar disebarkan, maka beberapa pengguna mungkin tidak merekam perubahan dan akan melakukan tugas dan membuat keputusan berdasarkan data ketinggalan jaman.
Ketergantungan Data Tugas
Masalah lain dengan pendekatan flat file adalah ketidakmampuan pengguna untuk memperoleh informasi tambahan sebagai perubahan kebutuhan nya. Masalah ini disebut tugas-data ketergantungan. Setiap informasi pengguna dibatasi oleh data bahwa ia memiliki dan mengontrol.
Elemen Lingkungan Basis Data
Pengguna
Pengguna mengakses basis data dalam dua cara. Pertama, akses tersebut dapat dicapai melalui program-program pengguna yang disiapkan oleh professional sistem. Kedua melalui permintaan langsung, yang tidak memerlukan program-program formal dari pengguna.
Sistem Manajemen Basis Data
Elemen kedua dari pendekatan basis data adalah sistem manajemen basis data. DBMS menyediakan lingkungan yang terkontrol untuk membantu (atau mencegah) pengguna mengakses basis data. Setiap model DBMS menyelesaikan tujuan-tujuan berbeda, namun beberapa fitur khas termasuk: (1) Program pembangunan, (2) Backup dan pemulihan, (3) Penggunaan database pelaporan dan (4) Akses database.
Data Definisi Bahasa
Data definisi bahasa (DDL) adalah bahasa pemrograman yang digunakan untuk mendefinisikan database fisik ke DBMS. Definisi ini mencakup nama-nama dan hubungan dari semua elemen data, catatan, dan file yang merupakan database. DDL mendefinisikan database pada tiga tingkat yang disebut views: pandangan internal, pandangan konseptual (skema), dan tampilan pengguna (subschema)
Bahasa Manipulasi Data
Bahasa manipulasi data adalah bahasa pemrograman kepemilikan yang digunakan oleh DBMS tertentu untuk mengambil, memproses, dan menyimpan data.
Bahasa Permintaan Data
Bahasa permintaan data dari IBM telah menjadi bahasa query standar untuk DBMS mainframe dan mikrokomputer. SQL merupakan bahasa generasi keempat dan bahasa nonprocedural dengan banyak perintah yang memungkinkan pengguna untuk memasukkan, mengambil dan memodifikasi data dengan mudah.
Administrator Basis Data
DBA bertanggung jawab untuk mengelola sumber daya basis data. Penggunaan basis data secara bersama-sama oleh banyak pengguna memerlukan koordinasi, peraturan, dan petunjuk untuk melindungi integritas basis data.

A.      Model Basis Data Relasional
Sistem disebut relasional jika:
1.       Menyajikan data dalam bentuk tabel dua dimensi
2.       Mendukung fungsi - fungsi aljabar relasional yaitu batasi, proyeksikan dan gabungan.
Meskipun batasi, proyeksikan dan gabungan bukan merupakan serangkaian fungsi lengkap, ini adalah subrangkaian yang mencukupi untuk kebanyakan kebutuhan informasi bisnis.
Konsep Basis Data Relasional
1.       Entitas, Pemunculan dan Atribut. Entitas adalah segala sesuatu yang digunakan oleh organisasi untuk menagkap data. Pemunculan gigunakan untuk mendeskripsikan jumalh contoh atau record yang berkaitan dengan entitas tertentu. Atribut adalah elemen data yang mendefinisikan entitas.
2.       Asosiasi dan Kardinalitas. Garis berlabel yang menghubungkan dua entitas dalam model data mendeskripsikan sifat asosiasi di antara mereka. Kardinalitas adlah derajat asosiasi di antara dua entitas.
3.       Tabel Basis Data Fisik. Tabel basis data fisik dibentuk dari model data, di mana setiap entitas dalam model ditransformasikan ke tabel fisik yang terpisah.
4.       Hubungan Antara Tabel-Tabel Relasional. Tabel-tabel yang berhubungan secara logis harus terhubung secara fisik untuk mencapai asosiasi yang dideskripsikan dalam model data.
5.       Tampilan Pengguna. Didefinisikan sebagai serangkaian data yang dilihat oleh pengguna tertentu. Tampilan bisa bersifat digital atau fisik, namun semuanya berasal dari tabel basis data.
Anomali Basis Data
1.       Anomali Pembaruan, dihasilkan dari redundansi data (data yang berlebihan) dalam tabel yang tidak dinormalisasi.
2.       Anomali Sisipan, Untuk menunjukkan damapk anomaly penyisipan, asumsikan bahwa seorang pemasok telah memasuki pasar.
3.       Anomali Penghapusan, melibatkan penghapusan yang tidak disengaja atas data dalam tabel.
Peraturan Normalisasi Data
        Proses normalisasi yang memeriksa ketergantungan penyebab anomaly secara formal disebut kelompok berulang, ketergantungan parsial, dan ketergantungan transitif. Dengan kata lain, eliminasi ketiga anomaly ini melibatkan sebuah proses yang secara sistematis memecah tabel-tabel kompleks menjadi tabel yang relative kecil yang memenuhi dua kondisi:
1.       Semua atribut nonkunci dalam tabel itu bergantung pada kunci primer.
2.       Semua atribut nonkunci tidak bergantung pada atribut nonkunci lainnya.
Akuntan dan Normalisasi Data
        Normalisasi basis data merupakan seluruh masalah teknis yang biasanya menjadi tanggung jawab seorang ahli atau professional sistem. Namun demikian, normalisasi basis data memiliki implikasi untuk pengendalian internal yang menjadi perhatian akuntan juga.
B.      Mendesain Basis Data Relasional
          Bagian ini membahas langkah-langkah yang terkait dalam pembuatan basis data rasional. Bgaian awal biasanya mencakup banyak pekerjaan yang mengidentifikasi secara terperinci elemen - elemen utama dari sistem yang dikembangkan. Dengan latar belakang ini, ada enem tahap utama dalam desain basis data.
1.       Mengidenfikasikan entitas, mencangkup analisis peraturan bisnis dan kebutuhan informasi dari semua pengguna.
2.       Membuat model data yang menunjukkan asosiasi entitas, mencangkup peraturan bisnis.
3.       Menambahkan kunci primer dan atribut ke model, Analis harus memilih kunci primer yang secara logis mendefinisikan atribut nonkunci dan secara unik mengidentifikasi setiap kemunculan dalam entitas dan setiap atribut harus muncul secara langsung atau tidak langsung dalam satu atau beberapa tampilan pengguna.
4.       Menormalisasi model data dan menambahkan kunci luar, menyajikan model data yang dinormalisasi.
5.       Membuat basis data fisik, menghubungkan tabel-tabel dengan garis putus-putus.
6.       Menyiapkan tampilan pengguna, memungkinkan perancang sistem untuk menciptakan tampilan pengguna dengan mudah dari tabel.
C.      Basis Data Dalam Lingkungan Terdistribusi
          Dalam hal ini, perencana sistem memiliki dua pilihan dasar; basis data dapat disentralisasikan atau dapat didistribusikan. Basis data terdistribusi memiliki dia ketegori; basis data teepartisi dan tereplikasi.
Basis Data Tersentralisasi
          Berdasarkan pendekatan basis data tersentralisasi, pengguna dari jarak jauh mengirim permintaan melalui terminal untuk data yang terdapat di situs sentral, yang memproses permintaan dan mengirimkan data kembali ke pengguna
Basis Data Terdistribusi
Basis data terdistribusi dapat didistribusikan dengan menggunakan teknik partisi atau replikasi.
1.       Database Partisi Pendekatan database partisi membagi database sentral dalam segmen-segmen atau partisi yang didistribusikan ke para pemakai utama mereka. Keunggulan pendekatan ini adalah:
o     Kontrol terhadap pemakai ditingkatkan karena data disimpan dalam situs-situs lokal.
o     Waktu tanggap pemrosesan transaksi diperbaiki dengan mengizinkan lokal mengakses data dan mengurangi volume data yang harus ditransmisi di antara situs.
o     Database partisi dapat mengurangi potensi kehancuran. Dengan menempatkan data di beberapa situs, hilangnya sebuah situs tidak akan menghapus semua data yang diproses oleh organisasi.
2.       Database Replikasi Pada sebagian organisasi, seluruh database dibuat tiruannya di setiap situs. Database replikasi efektif untuk perusahaan-perusahaan yang tingkat pemakaiannya bersama untuk data-data yang tinggi tetapi tidak ada pemakai utama. Karena data yang sama dibuat tiruannya di setiap situs, lalu lintas data di antara situs banyak berkurang.
                Pembenaran pertama untuk sebuah database replikasi adalah untuk mendukung query-query hanya untuk dibaca (read only queries). Dengan data yang ditiru (direplikasi) untuk setiap situs, akses data untuk tujuan bertanya dipastikan, selain untuk penguncian dan penundaan karena lalu lintas jaringan diminimalkan.
Pengendali Bersamaan
          Pengendali bersamaan adalah hadirnya data yang lengkap dan akurat di semua situs. Para perancang sistem harus menggunakan metode-metode untuk memastikan bahwa transaksi yang diproses di setiap situs secara akurat dicerminkan dalam basis data di situs-situs lainnya. Metode yang biasa digunakan untuk pengendali bersamaan adalah dengan membuat urutan transaksi dengan time-stamping (pemberian cap waktu)
Basis Data Terdistribusi dan Akuntan
          Keputusan untuk mendistribusikan basis data adalah keputusan yang harus dipikirkan dengan baik. Ada banyak masalah dan pertukaran yang harus dipertimbangakn. Sebagian pertanyaan paling dasar antara lain:
·         Apakah data harus diorganisasikan secara terpusat atau terdistribusi?
·         Jika yang diinginkan adalah distribusi data, basis data harus direplikasi atau dipartisis?
·         Jika direplikasi, basis data harus direplikasi seluruhnya atau sebagain saja yang direplikasi?
·         Jika basis data akan dipartisi, bagaimana segmen-segmen data harus dialokasikan di antara situs?

Jumat, 13 Desember 2013

THE RESEARCH PROCESS ; ELEMENTS OF RESEARCH DESIGN

DESAIN PENELITIAN
        Setelah mengidentifikasi variabel dalam suatu situasi masalah dan mengembangkan kerangka teoretis, langkah selanjutnya adalah mendesain penelitian sehingga data yang diperlukan dapat dikumpulkan dan dianalisis untuk sampai pada solusi. Terdapat enam aspek dasar desain penelitian yaitu tujuan studi, jenis investigasi, tingkat intervensi, konteks studi, unit analisis, dan horizon waktu studi. Aspek-aspek lainnya yakni, pengukuran, metode pengumpulan data, desain sampel, dan analisis data.

TUJUAN STUDI : EKSPLORATIF, DESKRIPTIF, PENGUJIAN HIPOTESIS (ANALITIS DAN PREDIKTIF), ANALISIS STUDI KASUS
        Studi dapat bersifat eksploratif atau deskriptif, atau dilakukan untuk menguji hipotesis. Studi kasus merupakan penyelidikan studi yang dilakukan dalam situasi organisasi lain yang mirip, yang juga merupakan metode pemecahan masalah, atau untuk memahami fenomena yang diminati dan menghasilkan pengetahuan yang lebih lanjut tentang fenomena tersebut.
        Studi kasus bergantung pada tahap peningkatan pengetahuan mengenai topik yang diteliti. Keputusan desai menjadi semakin ketat saat kita berlanjut pada tahap eksploratif, dimana kita berusaha mengeksplorasi bidang penelitian organisasi yang baru ke tahap deskriptif; kita mencoba menjelaskan karakteristik tertentu dari fenomena yang menjadi pusat perhatian ke tahap pengujian hipotesis; menguji apakah hubungan yang diperkirakan memang terbukti dan jawaban atas penyataan penelitian telah diperoleh. Berikut tahap – tahap nya secara rinci :
1.       Studi ekspolaratif (exploratory study)
Studi ekspolaratif dilakukan jika tidak banyak yang diketahui mengenai situasi yang dihadapi atau tidak ada informasi yang tersedia mengenai bagaimana masalah atau isu penelitian yang mirip diselesaikan di masa lalu. Dalam kasus tersebut, studi awal yang ekstensif perlu dilakukan untuk mendapatkan keakraban dengan fenomena situasi, dan memahami apa yang terjadi sebelum kita membat sebuah model dan menyusun desain ketat untuk investigasi menyeluruh.
2.       Studi deskriptif (descriptive study)
Studi deskriptif  dilakukan untuk mengetahui dan menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristik variabel yang diteliti dalam suatu situasi. Cukup sering, studi deskriptif dilakukan di organisasi untuk mempelajari dan menjelaskan karakteristik sebuah kelompok karyawan, misalnya usia, tingkat pendidikan, status kerja, dan lama kerja orang Hispanik atau Asia, yang bekerja dalam sistem..
3.       Pengujian hipotesis (hypothesis testing)
Yang termasuk dalam pengujian hipotesis, biasanya menjelaskan sifat hubungan tertentu, atau menentukan perbedaan antarkelompok atau kebebasan (independensi) dua atau lebih faktor dalam suatu situasi.
Studi deskriptif yang menampilkan data yang bermakna membantu dalam :
Ø  Memahami karakteristik sebuah kelompok dalam situasi tertentu.
Ø  Memikirkan secara sistematis mengenai berbagai aspek dalam situasi tertentu.
Ø  Memberikan gagasan untuk penyelidikan dan penelitian lebih lanjut.
Ø  Membuat keputusan tertentu yang sederhana (seperti berapa banyak dan jenis orang seperti apa yang sebaiknya ditransfer dari satu departemen ke departemen lainnya).
4.       Analisis Studi kasus
Studi kasus meliputi analisis kontekstual dan mendalam terhadap hal yang berkaitan dengan situasi serupa dalam organisasi lain. Tetapi, studi kasusu yang bersifat kualitatif berguna dalam menerapkan solusi pada masalah terkini berdasarkan pengalaman pemecahan masalah di masa lalu. Hal tersebut juga berguna untuk memahami fenomena tertentu dan menghasilkan teori lebih lanjut untuk pengujian empiris.
5.       Tinjuan Tujuan Studi
Dalam studi eksploratif, peneliti pada dasarnya berminat untuk menyelidiki faktor-faktor situasional untuk memperoleh pengertian mengenai karakteristik fenomena yang diteliti. Studi eksploratif tidak dilakukan jika karakteristik atau fenomena yang tampak dalam sebuah situasi diketahui eksis, dan seseorang ingin mampu menjelaskannya secara lebih baik dengan memberikan riwayat mengenai faktor terkait.
JENIS INVESTIGASI : KAUSAL VS KORELASIONAL
             Manajer harus menentukan apakah yang diperlukan adalah studi kausal (causal study) atau korelasional (correlational) untuk menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapi. Yang pertama dilakukan adalah menentukan hubungan sebab-akibat yang definitif. Tetapi, jika yang diingankan oleh manajer adalah sekedar identifikasi faktor-faktor penting yang berkaitan dengan masalah, maka studi korelasional dipilih. Studi di mana peneliti ingin menemukan penyebab dari satu atau lebih masalah disebut studi kausal  (causal study) dan jika peneliti berminat untuk menemukan variabel penting yang berkaitan dengan masalah, studi tersebut disebut studi korelasional  (correlational study).
TINGKAT INTERVENSI PENELITI TERHADAP STUDI
             Tingkat intervensi peneliti terhadap arus kerja normal di tempat kerja mempunyai keterkaitan langsung dengan pilihan studi yang dilakukan, kausal atau korelasional. Studi korerasional dilakukan dalam lingkungan alami organisasi dengan intervensi minimum oleh peneliti dan arus kerja yang normal.
             Dalam studi yang dilakukan untuk hubungan sebab-akibat, peneliti mencoba untuk memanipulasi variabel tertentu untuk mempelajari akibat manipulasi tersebut pada variabel terikat yang diteliti. Dengan kata lain peneliti, peneliti sengaja mengubah variabel tertentu dalam konteks dan mengintervensi peristiwa sejauh peristiwa tersebut terjadi secara normal dalam organisasi
             Tingkat intervensi peneliti bergantung pada apakah studi yang dilakukan korelasional atau kausal dan juga pentingnya menentukan hubungan kausal yang melebihi semua tingkat keraguan. Sebagian besar masalah organisasi jarang membutuhkan studi kausal. Dalam semua kasus, intervensi peneliti menjadikan perubahan dalam situasi yang mana studi kausal jarang dilakukan, kecuali dalam beberapa bidang penelitian.
SITUASI STUDI : DIATUR DAN TIDAK DIATUR
                Penelitian organisasi dapat dilakukan dalam lingkungan yang alami, dimana pekerjaan berproses secara normal (yaitu dalam situasi tidak diatur)  atau dalam keadaan artifisial dan diatur. Studi korelasional selalu dilakukan dalam situasi tidak diatur, sedangkan kebanyakan studi kausal yang ketat dilaksanakan dalam situasi yang diatur. Studi korelasional yang dilakukan dalam organisasi disebut studi lapangan. Studi yang dilakukan untuk menentukan hubungan sebab-akibat menggunakan lingkungan alami yang sama, dimana karyawan berfungsi secara normal  disebut eksperimen lapangan. Eksperimen yang dilakukan untuk menentukan hubungan sebab-akibat yang melampaui kemungkinan dari dugaan yang meragukan dalam pembuatan sebuah lingkungan yang artifisial dan teratur, dimana semua faktor yang tidak berhubungan dikontrol dengan ketat. Subjek yang sama dipilih dengan hati-hati untuk merespon stimuli tertentu yang dimanipulasi. Studi tersebut dianggap sebagai eksperimen lab (lab experiment).  
UNIT ANALISIS : INDIVIDUAL, PASANGAN, KELOMPOK, ORGANISASI, KEBUDAYAAN
             Unit analisis merujuk pada tingkat kesatuan data yang dikumpulkan selama tahap analisis data selanjutnya. Jika misalnya, pernyataan masalah berfokus  pada bagaimana meningkatkan tingkat motivasi karyawan secara umum, maka kita memperhatikan individu karyawan organisasi dan harus menemukan apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan motivasi mereka maka ini yang disebut individu (individual). Jika peneliti berminat mempelajari interaksi dua orang, maka beberapa kelompok yang terdiri dari dua orang atau dikenal sebagai pasangan menjadi unit analisis. Tetapi jika pernyataan masalah berkaitan dengan efektivitas kelompok, maka unit analisis adalah pada tingkat kelompok. Bila kita membandingkan departemen yang berbeda dalam organisasi, maka analisis data akan dilakukan pada tingkat departemen. Karena itu, individu di dalam departemen akan diperlakukan sebagai satu unit – dan perbandingan dibuat dengan memperlakukan departemen sebagai unit analisis.
HORISON WAKTU (STUDY CROSS-SECTIONAL DAN STUDY LONGITUDYNAL)
Study One- Shot Atau Cross-Sectional
                Study one-shot atau cross-sectional merupakan studi yang dapat dilakukan dengan data yang hanya sekali dikumpulkan, mungkin selama periode harian, mingguan, atau bulanan, dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian. 
Study Longitudinal
             Tetapi jika peneliti ingin mempelajari orang atau fenomena pada lebih dari satu batas waktu dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian disebut study longitudinal. Misalnya peneliti mungkin ingin mempelajari perilaku karyawan, sebelum dan sesudah pergantian manajemen puncak, untuk mengetahui pergantian tersebut.
TINJAUAN UNSUR-UNSUR DESAIN PENELITIAN
          Bagian ini menyimpulkan pembahasan mengenai isu desain dasar yang terkait dengan tujuan studi, jenis investigasi, tingkat intervensi peneliti, keadaan study, unit analisis, dan horizon waktu. Peneliti akan menentukan keputusan yang tepat untuk dibuat dalam desain studi berdasarkan definisi masalah, tujuan penelitian, tingkat keketatan  yang diinginkan, serta pertimbangan biaya. Desain penelitian yang ketat yang mungkin memerlukan biaya lebih tingi perlu jika hasil studi sangat penting untuk membuat keputusan penting dalam memengaruhi kelangsungan organisasi dan  keberadaan sebagian besar anggota sistem.
          Desain penelitian yang ketat yang mungkin menuntut biaya lebih tingi adalah perlu jika hasil studi sangat penting untukmembuat keputusan penting untuk mempengaruhi kelangsungan organisasi dan atau keberadaan sebagian besar anggota sistem.
IMPLIKASI MANAJERIAL
             Manajer berada dalam posisi untuk menimbang kepentingan masalah yang dialami dan memutuskan jenis desain seperti apa yang dapat memberikan hasil yang bisa diterima dalam cara yang efisien. Pengetahuan mengenai permasalahan penelitian membantu manajer untuk memahami apa yang dilakukan oleh peneliti. Manajer harus membuat satu keputusan penting sebelum memulai studi yang berkaitan dengan bagaimana keterkaitan studi seharusnya. Mengetahui bahwa desain penelitan yang lebih ketat memakan sumber daya lebih banyak, manajer berada dalam posisi untuk memperhatikan masalah yang dialami dan memutuskan jenis desain seperti apa yang dapat memberikan hasil yang bisa diterima dalam cara yang efisien.
Pengetahuan mengenai interkoneksi diantara beragam aspek pada desain penelitian membantu manajer memutuskan studi yang paling efektif, setelah mempertimbangkan sifat dan besarnya masalah yang dihadapi, dan jenis solusi yang diharapkan.


THE RESEARCH PROCESS : THEORETICAL FRAMEWORK AND HYPOTHESIS DEVELOPMENT

KEBUTUHAN AKAN KERANGKA TEORITIS
Setelah melakukan wawancara, menyelesaikan survey literature, dan mendefinisikan masalah, maka peneliti telah siap untuk membuat kerangka teoritis. Kerangka teoritis merupakan dasar dari penelitian hipotesis-deduktif. dan merupakan dasar dari hipotesis yang akan disusun. Kerangka teoritis memperlihatkan keyakinan terhadap bagaimana fenomena tertentu (atau variabel atau konsep) berhubungan satu sama lain (sebuah model) dan penjelasan bagaimana peneliti yakin bahwa variabel-variabel tersebut berhubungan satu sama lain (sebuah teori).
Proses penyusunan kerangka teoritis mencakup :
·         Memperkenalkan definisi dari konsep atau variabel di dalam model
·         Mengembangkan model konseptual yang dapaqt mendeskripsikan teori
·         Menuju teori yang akan memberikan penjalasan tentang hubungan antar variabel pada model
VARIABEL – VARIABEL
Variabel merupakan segala sesuatu yang dapat membedakan atau membawa variasi pada nilai. Nilai bisa berbeda pada berbagai waktu untuk objek atau orang yang sama, atau pada waktu yang sama pada objek dan orang yang berbeda. Contoh variabel adalah unit produksi, absensi, dan motivasi.
Jenis – jenis Variabel
1.         Variabel terikat (dependent variabel)
Variabel yang menjadi perhatian utama peneliti. Sasaran penelitian adalah untuk memahami dan mendeskripsikan variabel terikat atau untuk menjelaskan variabilitinya atau memprediksinya. Melalui analisis terhadap variabel terikat (yaitu menemukan variabel yang memengaruhinya), dimungkinkan untuk menemukan jawaban atau solusi dari masalah. Dengan kata lain, variabel terikat merupakan variabel utama yang menjadi faktor yang berlaku dalam investigasi. 
2.         Variabel bebas (independent variabel)
Variabel yang mempengaruhi variabel terikat entah secara positif maupun negatif. Yaitu, jika terdapat variabel bebas variabel terikat juga ada, dan dengan setiap unit kebaika dalam variabel bebas, terdapat pula kenaikan atau penurunan dalam variabel terikat. Dengan kata lain, varians variabel terikat ditentukan oleh variabel bebas. Untuk membangun hubungan sebab akibat, keempat kondisi ini harus ada :
·         Variabel bebas dan variabel terikat harus saling berhubungan: dengan kata lain, perubahan pada variabel terikat harus berkaitan dengan perubahan pada variabel bebas.
·         Variabel bebas ( dianggap faktor kausal ) harus mendahului variabel terikat.
·         Tidak ada faktor lain yang mungkin menjadi penyebab perubahan dalam variabel terikat.
·         Penjelasan logis (teori) dibutuhkan untuk menjelaskan mengapa variabel bebas  memengaruhi variabel terikat.
3.       Variabel moderator (moderating variabel)
Variabel yang mempunyai hubungan ketergantungan yang kuat dengan hubungan variabel terikat atau variabel bebas. Dimana, kehadiran variabel ini mengubah hubungan awal antara bebas dan variabel terikat. 
Perbedaan antara variabel bebas dan variabel moderator
Kadang mencul kebingungan mengenai kapan variabel diperlakukan sebagai variabel bebas dan kapan varibel tersebut menjadi variabel moderator. Misalnya, terdapat dua situasi berikut:
Ø  Sebuah studi penelitian mengindikasikan bahwa semakin baik kualitas dari program pelatihan dalam organisasi dan semakin besar kebutuhan pertumbuhan karyawan, semakin besar keinginan mereka untuk mempelajari cara-cara baru dalam melakukan sesuatu.
Ø  Studi penelitian lain mengindikasikan bahwa keinginan karyawan untuk mempelajari cara-cara baru dalam melakukan sesuatu tidak dipengaruhi oleh kualitas dari program pelatihan yang diberikan oleh organisasi kepada semua orang tanpa pembedaan apapun.

4.         Variabel antara (intervening variable)
Variabel antara mengemuka antara waktu variabel bebas mulai bekerja untuk memengaruhi variabel terikat dan saat pengaruh variabel bebas terasa pada variabel terikat. Dengan demikian  terdapat kualitas temporal atau dimensi waktu pada variabel antara. Variabel antara sebagai fungsi dari variabel bebas yang beroprasi dalam situasi apa pun dan membantu mengonsepkan dan menjelaskan pengaruh dari veriabel bebas terhadap variabel terikat. Variabel bebas membantu untuk menjelaskan varians pada variabel terikat, variabel mediasi mengemuka pada waktu t2, sebagai fungsi dari variabel bebas, yang membantu untuk mengonsepkan hubungan antara variabel bebas dan terikat, dan variabel medorator mempunyai pengaruh ketergantungan pada hubungan antara dua variabel.
KERANGKA TEORITIS
Kerangka teoritis merupakan fondasi dimana seluruh proyek penelitian didasarkan. Hal tersebut dibangun secara logis, digambarkan, dan dieleborasi dengan jaringan dari asosiasi antara variabel yang relevan terhadap permasalahan dan identifiasi langsung pada proses wawancara, observasi dan tinjauan literature. Untuk sampai pada solusi masalah yang baik pertama,peneliti harus mengidentifikasi masalah dengan benar dan kemudian variabel yang memengaruhinya. Setelah mengidentifikasi variabel yang tepat, langkah selanjutnya adalah mengelaborasi jaringan asosiasi antar variabel, sehingga hipotesis yang relevan dapat disusun untuk selanjutnya diuji.
Komponen Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis yang baik mengidentifikasikan dan menamakan variabel-variabel penting dalam situasi yang relevan dengan definisi masalah. Kerangka teoritis secara logis menjelaskan hubungan antar variabel. Hubungan antara variabel bebas, variabel terikat, variabel moderator, dan variabel antara diuraikan.
Ada 3 hal mendasar yang harus diperhatikan dalam kerangka teoritis :
1.       Variabel-variabel yang dianggap relevan pada studi harus didefinisikan secara jelas.
2.       Model konseptual menjelaskan hubungan antara variabel dalam model harus diberikan.
3.       Harus ada penjelasan yang jelas mengapa peneliti memperkirakan hubungan itu berlaku.
Model konseptual memberikan gambaran tentang bagaimana konsep dalam model berhubungan satu sama lain. Suatu diagram skematis dari model konseptual membantu pembaca dapat melihat hubungan yang diteorikan.
Tidak selalu mudah untuk menghadirkan definisi umum dari variabel – variabel yang relevan. Walaupun begitu, definisi konsep yang tepat tetap sangat dibutuhkan, karena akan membantu untuk memberikan penjelasan mengenai hubungan antar variabel pada model. Definisi ini juga membantu untuk memberikan dasar untuk operasional dan pengukuran konsep, pada tahap pengumpulan data.
Model konseptual akan membantu untuk menstrukturkan diskusi literatur peneliti. Model konseptual menjelaskan bagaimana konsep – konsep di dalam model tersebut berkaitan satu sama lain. Model yang baik didasarkan dari teori yang kuat. Sebuah teori atau penjelasan yang jelas untuk keterkaitan di dalam model merupakan komponen terakhir dari kerangka konseptual.
Kerangka teoritis untuk contoh pelanggaran keselamatan
Variabel terikat adalah pelanggaran keamanan, yang merupakan variabel utama. Varians akan terjelaskan dengan empat variabel bebas, yakni: komunikasi antara anggota, komunikasi antara petugas kontrol bandra dan desentralisasi.
PENYUSUNAN HIPOTESIS
Setelah mengidentifikasi variabel penting dan menetapkan hubungan antar variabel melalui pemikiran logis dalam kerangka teoritis yang selanjutnya kita lakukan pengujian apakah hubungan yang diteorikan benar-benar terbukti kebenarannya. Dengan menguji hubungan tersebut melalui analisis statistik yang tepat atau melalui analisis kasus negatif dalam penelitian kualitatif, maka akan diperoleh informasi yang dapat dipercaya mengenai jenis hubungan antara variabel-variabeltersebut. Hasil pengujian memberi solusi untuk memecahkan masalah. Penyataan yang dapat diuji disebut Hipotesis.
DefInisi Hipotesis
Hipotesis dapat didefinisikan sebagai hubungan yang bersifat sementara belum diuji, yang memprediksi apa yang peneliti harapkan untuk menemukan hasil pada data empiris. Hipotesis-hipotesis ini berasal dari teori yang terdapat pada dasar dari model konseptual. sehingga hipotesis didefinisikan sebagai dugaan logis mengenai hubungan antara dua atau lebih variabel yang diterjemahkan dalam pernyataan yang teruji.
Pernyataan pada Hipotesis : Format
Pernyataan hipotesis (format jika-maka), hipotesis dapat menguji apakah terdapat perbedaan antara dua kelompok atau antara beberapa kelompok yang terkait dengan variabel. Untuk menguji apakah hubungan atau perbedaan yang diperkirakan tersebut ada atau tidak, hipotesis dapat disusun sebagai proposisi atau dalam bentuk pernyataan jika-maka.
Hipotesis Diraksional dan Non - Direksional
Hipotesis direksional adalah hubungan antara dua variabel atau membandingkan dua kelompok dengan menggunakan istilah-istilah positif, negatif, lebih dari, kurang dari, dan semacamnya.
Hipotesis nondireksional adalah hipotesis yang mendalilkan hubungan atau perbedaan, tetapi tidak memberikan indikasi mengenai arah dari hubungan atau perbedaan tersebut.
Hipotesis Nol dan Hipotesis – Hipotesis Alternatif
Hipotesis nol (hipotesis nihil atau null hypotheses) adalah proposisi yang menyatakan hubungan yang difinitif dan tepat di antara dua variabel. Korelasi populasi antara dua variabel adalah sama dengan nol atau bahwa perbedaan dengan mean (rerata hitung) dua kelompok dalam populasi adalah sama dengan nol (atau suatu angka tertentu).
PENGUJIAN HIPOTESIS DENGAN PENELITIAN KUALITATIF : ANALISIS KASUS NEGATIF
Hipotesis juga dapat diuji dengan data kualitatatif. Misalnya seorang peneliti membuat kerangka teoritis setelah melakukan wawancara bahwa perilaku tidak etis yang dilakukan oleh karyawan disebabkan oleh ketidakmampuan peneliti membedakan benar atau salah, Untuk menguji apakah ketiga faktor tersebut merupakan sebab utama perilaku tidak etis, peneliti akan mencari data yang menyangkal hipotesis. Bahkan jika suatu kasus tunggal tidak mendukung hipotesis,teori tersebut harus direvisi. Penemuan baru melalui konfirmasi dari hipotesis asli dalam suatu hipotesis disebut metode kasus negatif, memungkinkan peneliti untuk merevisi teori dan hipotesis hingga teori tersebut menjadi baik
KEUNTUNGAN MANAJERIAL
Setelah masalah didefinisikan, pengertian yang baik mengenai keempat jenis variabel yang berbeda memperluas pemahaman manajer. Misalnya, dalam hal bagaimana berbagai faktor bergesekan dengan keadaan organisasi. Pengetahuan tentang bagaimana dan untuk tujuan apa kerangka teoritis dibangun dan hipotesis disusun memampukan manajer untuk menjadi hakim ynag cerdas terhadap laporan penelitian yang diberikan oleh konsultan. Demikian pula  pengetahuan mengenai signifikansi, dan mengapa sebuah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak, membantu manajer untuk bertahan dalam atau berhenti dalam dugaan yang walaupun masuk akal, tidak terbukti.
Jika pengetahuan semacam itu tidak dimiliki banyak temuan penelitian tidak akan berguna bagi manajer dan pengambilan keputusan akan menghasilkan kebingungan.